Sabtu, 03 Desember 2011

Wardatul Ilmiah: Analisis Isi


LAGI, SOAL PLAGIASI
Senin, 23-Mei-2011, 09:31:49
Oleh :  Firman Venayaksa Dosen Untirta dan Tim Teknis Pengembangan Budaya Baca, Kementerian Pendidikan Nasional.
Kehidupan manusia, selain berkehendak menjadi khalifah di muka bumi ini adalah berkehendak untuk dikenang. Tidak salah jika Chairil Anwar di dalam sajak “Aku” menegaskan posisi ini “Aku ingin hidup seribu tahun lagi.”
Dengan menulis puisi hal itu kini terbukti. Dengan menulis karya-karya yang monumental, hingga saat ini ia dikenang sepanjang masa. Jelas sudah bahwa menulis merupakan hal yang paling mungkin untuk melanggengkan umur manusia yang berbatas itu. Umur Chairil bahkan bisa lebih dari seribu tahun, menjadi panjang, karena karya-karyanya terdokumen­tasikan dalam bentuk tulisan sehingga bisa dikenang oleh pembacanya.

Gutenberg dan Internetisasi
Disinilah kekuatan sebuah artefak tertulis yang tidak mungkin dimiliki oleh budaya lisan. Apa lagi ketika Johannes Gutenberg pada tahun 1450-an menciptakan alat cetak sehingga tulisan menjadi lebih abadi dan diproduksi secara masif. Pada titik inilah ledakan informasi menggelegar dengan hebat di Eropa. Zaman Renaisans menjadi lebih dahsyat. Proses transformasi ilmu pengetahuan yang sangat cepat dan tidak terelakkan men­jadikan manusia-manusia pada zaman itu (termasuk para aka­demisi di dalamnya) lebih am­bisius untuk menciptakan pene­muan-penemuan yang mungkin tak terpikirkan sebelumnya. Wajah duniapun berubah.
Saya berani mengatakan bahwa kondisi pada zaman Renaisans, terjadi kembali detik ini ketika internet mewabah di hampir pelosok dunia. Apa yang terjadi di kutub utara, dalam hitungan detik bisa diketahui di kutub selatan. Akses informasi menjadi sangat mutakhir sehingga siapa­pun yang tak hendak terlindas oleh zaman seyogianya mesti terlibat menjadi bagian di dalam­nya. Jika dulu para akademisi mendatangi perpustakaan untuk mengakses ilmu/referensi, maka sekarang ini, dengan mengakses internet, perpustakaan digital sudah berada di depan mata yang berisi jutaan informasi keilmuan dan siap diunduh kapanpun kita berkehendak.
Namun proses koneksi-infor­masi semacam ini tak bisa lepas dari kendala. Dengan mudahnya kita mendapatkan informasi, dengan mudah pula kita meng­klaim sesuatu yang mungkin bukan milik kita. Pada akhirnya istilah plagiat di kalangan akademisi kian dekat di telinga. Semenjak zaman Gutenberg hingga internetisasi kini, proses plagiasi justru kian mewabah. Para akademisi yang diidentikkan dengan idealisme, menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan moralitaspun bobol. Malah mereka menjadi bagian yang sering terkena cap plagiat. Hal ini menjadi sangat menggelikan.
Produk Hukum
Atas penghormatan dan perlin­dungan terhadap Hak Cipta, Negara kita telah ambil bagian dengan membuat Undang-Undang Republik Indonesia No 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta yang memuat 78 pasal.
Secara umum, Hak Cipta lebih ba­nyak berurusan dengan dunia seni. Di antara 12 jenis karya yang termuat pada pasal 12, yang ber­kaitan dengan wilayah aka­demik berupa karya-karya tertulis. Kemudian untuk mem­perkuat Undang-undang ter­sebut, Depdiknas (sekarang Kem­diknas) membuat beberapa surat dan Permendiknas terutama yang berkaitan dengan upaya pen­cegahan tindakan plagiat. Per­tama, Surat Dirjen Dikti no. 3298/D/T/99 tentang Upaya pen­cegahan tindakan plagiat, ke­dua Permendiknas no. 17 ta­hun 2010 tentang pencegahan dan penanggulangan plagiat di PT, ketiga Surat Dirjen Dikti No. 1311/D/C/2010 tentang Pence­gahan dan Penanggulangan Plagiat, dan keempat Surat Dirjen Dikti No. 190/D/T/2011 tentang Validasi Karya Ilmiah
Bahkan dengan memakai mo­mentum Hari Pendidikan Na­sional, pada tanggal 4 Mei 2011, Menteri Pendidikan Nasional M. Nuh beserta Pemimpin Pergu­ruan Tinggi dan Koordinator Kopertis seluruh Indonesia men­deklarasikan gerakan anti mencontek dan anti plagiat. Bisa jadi hal ini dikarenakan terdapat beberapa pemberitaan mengenai dugaan plagiasi yang dilakukan sejumlah sivitas akademika. Menurut pantauan Tempo www.tempointeraktif.com yang dirilis pada tanggal 16 April 2010, setidaknya ada empat kasus besar yang muncul ke permukaan terkait dugaan plagiasi. Kasus tersebut secara maraton terjadi pada bulan Februari 2010 (2 Februari melibatkan dosen Universitas Mataram, 4 Februari me­libatkan dosen Unpar Ban­dung, 16 Februari melibatkan do­sen Untirta dan 17 Februari yang melibatkan dua calon Pro­fesor dari Kopertis V Yogyakarta)
Dengan memanfaatkan kecang­gihan software anti-plagiat di pelbagai situs, para plagiator itu sebetulnya sudah tak mungkin bisa berkutik, sehebat apapun ia berkilah. Tulisan-tulisan yang kental dengan plagiasi akan sangat mudah terdeteksi. Kendati demikian, ketika pelbagai produk hukum yang disertai sanksi telah termaktub dan menjamurnya software pendeteksi anti-pagiat di mana-mana, mengapa kasus plagiat di kalangan akademisi selalu muncul dan tidak membuat plagiator itu kapok? Jawaban paling purna sebetulnya dikembalikan pada wilayah etika.
Akademisi Durhaka
Memahami konsep kehidupan manusia adalah belajar mema­hami prinsip-prinsip sosial yang ada di sekeliling kita. Sebagai makhluk sosial, kita tak bisa hanya sekadar hidup dan me­mentingkan ke-diri-an. Perlu ada semacam negosiasi antara kita sebagai manusia yang me­mi­liki domain pribadi dan kita yang secara alamiah mem­butuh­kan interaksi. Negosiasi menjadi kepastian di dalam proses ini karena dalam ranah tersebut ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan.
Pertimbangan yang paling sering dipakai di dalam interaksi tersebut adalah etika. Siapapun orang pasti berkeinginan diberi label beretika, sebaliknya orang-orang yang dicap sebagai ma­nusia tak beretika sudah bisa di­pas­tikan akan hidup pada wila­yah marginal, sulit berbaur dengan sekelilingnya dan akan lebih sering dikelompokkan pada sifat-sifat antagonis. Pada akhir­nya, manusia yang berlabel tak beretika tersebut akan mendapat­kan istilah lain seperti orang yang tak bermoral, tak beradab dan seterusnya.
Ternyata begitu penting label etika di masyarakat kita, sehingga mau tak mau interaksi kehidupan ini sering menjadi nisbi, setengah hati dan terkadang dibuat-buat agar tampak sebagai manusia beretika yang diformulasikan dalam konsep tata krama dan atribut-atribut berpakaian. Pada tataran ini, etika ternyata tak hanya melahirkan manusia yang ber­negosiasi dengan keadaan; lebih jauh dari itu, atas dasar ketakutan terhadap cap tak beretika, etika lambat laun me­lahirkan juga manusia-manusia yang tak jujur, penuh dengan muslihat dan begitu banyak basa-basi.
Bagi manusia timur seperti kita, etika tidak hanya sebuah negosiasi dalam interaksi sosial, tetapi telah berubah menjadi se­bentuk feodalisme (posi­tivistik). Stereotipe relasi antara orangtua dan anak akan bisa ter­lihat pada kehidupan sehari-hari. Seorang anak harus patuh dan tidak boleh membantah ter­hadap segala perintah orang­tua. Sikap dan perilaku seorang anak harus terjaga. Di dalam cerita rakyat yang berkembang, seorang anak yang tidak patuh kepada orangtuanya bisa dilaknat dan diberi label sebagai anak durhaka. Hal itu tergambar di dalam cerita Malin Kundang misalnya.
Istilah durhaka yang muncul dari relasi orangtua-anak ini lebih ditekankan pada inisitaif “balas-jasa.” Seorang anak tidak boleh melupakan jasa orangtua­nya. Dalam konteks ilmu pengetahuan, seorang akademisi tidak mungkin membuat sebuah temuan atau penelitian tanpa membaca teks-teks terdahulu, sehingga memun­culkan kutipan adalah hal yang wajar untuk mem­perlihatkan proses “balas-jasa” itu.
Terkait dengan persoalan ini, sebetulnya masyarakat akademik sa­ngat terbuka dan bahkan menjadi “komunitas” penjaga etika. Munculnya plagiasi di kalangan akademik adalah dosa yang sangat besar dan sulit untuk di­ampuni. Di dalam dunia aka­demik, orang-orang yang me­la­ku­kan plagiasi adalah aka­demisi yang tidak beretika, bah­kan bolehlah kita mena­mai­nya sebagai “akademisi durhaka”
Masyarakat akademik adalah “orang-orang terpilih.” Mereka tak hanya berfungsi untuk kampusnya, tetapi juga harus memiliki kepedulian untuk menyebarkan sisi-sisi keilmuan agar masyarakat lain merasakan manfaat mereka. Munculnya dek­larasi anti plagiasi oleh Men­diknas dan diikuti oleh pelbagai Perguruan Tinggi di daerah semoga tak berhenti pada ranah sere­monial belaka karena “aka­de­misi durhaka” itu mungkin saja ada di sekeliling kita. Atau jangan-jangan si Malin Kundang itu adalah kita.
Di Posting Tanggal 09/11/2011
ANALISIS ISI
Oleh : Wardatul Ilmiah
Memalukan dan memilukan itulah kalimat yang pertama kali terbesit dalam hati ini, dan tidak bisa kita pungkiri dunia akademisi kita kental dengan plagiasme, yang seharusnya menjunjung tinggi etika malah merusak etika itu sendiri. banyaknya kasus plagiasi inilah yang memberikan identitas kepada penghuni akademisi sebagai maling beralmamater, tidak memiliki rasa menjaga dan menghormati sesama dan mencerminkan sikap tidak mau berusaha dan terima jadi.
Sikap saling menghargai dan menjaga karya orang dan mengakuinya bahkan kita jaga merupakan sikap yang sehausnya berurat dan berakar dalam diri kita. Dunia maya benyak memberikan manfaat bagi kita maka jangan salahkan ia dan jangan kotori jasanya karena ulah kita, ibarat pisau, pisau jika berada di tangan ibu rumah tangga, atau koki, maka akan memberikan manfaat yang sangat berarti, tapi jika pisau tersebut di tangn penjahat maka akan membahayakan, bukan pisau tersebut yang membehayakan melainkan manusia itu sendiri yang tidak bisa memanfaatkannya sesuai dengan fungsinya.

Tugas Analisis Teks

Pengantar 
Secara serial tugas individu yang masuk akan dipublish. Silakan jadikanlah  ajang belajar melalui blog ini.

Tugas Analisis Teks
0leh : Saifullah

Reading :
Teachers use many metaphors to describe what they do. Sometimes they say they are like actors because we are always on the stage. Others think they are like orchestral conductors because I direct conversation and set the pace and tone. Yet others feel like gardeners because we plant the seeds and then watch them grow.
Dictionaries also give a variety of messages about teaching. According to the Cambridge International Dictionary of English, “teaching” means to give (someone) knowledge or to instruct or train (someone), whereas the Longman Dictionary of Contemporary English suggests that it means to show somebody how to do something or to change somebody’s ideas.
It is because views are somewhat mixed as to what teachers are, and because different functions are described to teaching, that we need to examine the teacher’s role not only in education generally, but in the classroom itself.
Within the classroom our role may change from one activity to another, or from one stage of an activity to another. If we are fluent at making these changes our effectiveness as teachers is greatly enhanced. We have already used the term ‘facilitator’ to suggest the teacher’s role in learner-centred lessons- the way in which facilitator is traditionally used by many commentators. There are some teacher’s roles, such as controller, organiser, assessor, participant, tutor and observer.
Dari teks di atas, penulis bermaksud menjelaskan fungsi dan tugas guru dalam proses pembelajaran di dalam kelas, guru tidak hanya berfungsi sebagai (transformer) menyampaikan pengetahuan kepada murid, tetapi masih banyak tugas dan fungsi guru yang harus diterapkan kepada anak didik dalam mencapai tujuan pendidikan. Misalnya guru bisa saja berperan sebagai fasilitator, tutor, assessor, controller ataupun organiser.
Kesimpulannya adalah seorang guru harus bisa memahami situasi dan kondisi kelas untuk menentukan cara dan metode yang efektif di setiap kesempatan dan aktifitas yang berbeda, kapan dia berperan sebagai assessor, fasilitator, tutor dan seterusnya.
Dalam teks ini penulis menggunakan bahasa deskriptif (menggambarkan/menjelaskan fungsi dan peran guru, juga menjelaskan makna dari mengajar).
Judul/tema yang tepat untuk teks di atas adalah “The Roles of aTeacher” 

Analisis Teks Tertulis 2

T U G A S
Terjemahan Teks Bahasa Inggris

Sebagai salah satu syarat pada
Mata Kuliah Manajemen Mutu Terpadu Pendidikan Agama Islam

Dosen Pengampu : Drs. Herli Salim, M.Ed., Ph.D.








OLEH KELOMPOK 1 :

1.  SARIF HIDAYATULLAH
2.  ABDULLAH WALI
3.  H. MABRURI
4.  PANUT
5.  SANTUNI
6.  NIKMATULLAH



PROGRAM PASCASARJANA
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI “SMH” BANTEN
1432 H./2011 M.




Analisis Wacana: Teks Tertulis
Susan R. Goldman dan Jennifer Wiley
University of Illinois di Chicago


ANALISIS WACANA: TEKS TERTULIS

Teks tertulis bisa didekati dari berbagai perspektif disiplin dan tujuan. Dalam konteks buku ini, kita mendekati analisis wacana dari teks yang ditulis dengan bertanya mengapa teks tertulis menjadi perhatian para peneliti literasi, mengapa mereka perlu dianalisa, dan bagaimana teks-teks dan analisis mereka menginformasikan penelitian teoritis dan empiris dalam keaksaraan. Teks tertulis menjadi perhatian para peneliti keaksaraan karena kemampuan untuk membaca dan memahami mereka adalah definisi untuk melek huruf, pada setidaknya di budaya Barat. Tapi teks yang ditulis jauh dari monolitik. Ada sejumlah ditulis teks genre, dibedakan oleh tujuan atau fungsi serta struktur atau bentuk (misalnya, narasi, puisi, persuasif, informatif). Dan dalam genre, teks bervariasi baik dalam bentuk dan konten. Tujuan utama dari analisis teks tertulis adalah untuk menggambarkan struktur dan konten. Hal ini penting untuk melakukannya karena mapan temuan empiris menunjukkan bahwa struktur dan konten berdampak pada bagaimana pembaca membaca, memahami, mengingat, dan belajar dari teks tertulis (Goldman, 1997; Goldman & Rakestraw, 2000; Hiebert, Englert, & Brennan, 1983; Lorch, 1989). Wacana analisis teks tertulis menyediakan metode untuk teks sistematis menggambarkan bahwa siswa berbunyi sebagai serta mereka mereka menulis.

Untuk mendapatkan rasa dari apa yang kita mungkin ingin kita analisis teks tertulis untuk menangkap membaca lebih dari contoh teks 1 dan 2. Mereka masing-masing berhubungan dengan topik ekosistem sungai dan ditulis untuk memperkenalkan remaja muda (11 - 13 tahun usia) terhadap ide-ide saling ketergantungan dan lingkungan polusi. Saat Anda membacanya, pikirkan bagaimana Anda akan menggambarkan karakteristik mereka, mereka persamaan dan perbedaan mereka. (Lakukan ini sekarang sebelum membaca di dalam bab ini.)

Teks 1: Sungai Tupelo Misteri Pada musim semi tahun 1999, pembangkit listrik tenaga nuklir baru di kota Bregsville pergi intooperation. Warga lokal dan aktivis lingkungan hidup prihatin karena pembangkit listrik terletak di sepanjang cabang Sungai Tupelo. Mereka tahu bahwa sungai merupakan ekosistem yang sangat rapuh. Kata ekosistem menghubungkan ide eko, yang berarti habitat atau



Analisis Wacana Teks Tertulis 2

Lingkungan, dengan sistem, yang berarti satu set hubungan. Lingkungan khawatir bahwa pembangkit listrik tenaga nuklir akan mengganggu keseimbangan hubungan antara segala sesuatu dalam ecosystem.There Sungai Tupelo banyak bagian dari ekosistem Sungai Tupelo itu. Beberapa organisme seperti ikan, serangga, hewan, dan tanaman. Mereka tinggal di dan di sekitar sungai. Sistem sungai juga mengandung non-makhluk hidup seperti air, batuan di bagian bawah, dan lumpur di tepi sungai. Konsep yang paling penting tentang setiap ekosistem, termasuk Sungai Tupelo, adalah bahwa semuanya tergantung pada segala sesuatu yang lain. Perubahan di satu bagian dari ekosistem bisa memperkenalkan perubahan di seluruh bagian ekosistem. Ada kekhawatiran bahwa pengoperasian pembangkit listrik tenaga nuklir akan memperkenalkan perubahan.

Teks 2: Ekosistem Setiap kelompok makhluk hidup dan tak hidup berinteraksi satu sama lain dapat beconsidered sebagai sebuah ekosistem. Dalam setiap ekosistem, habitat yang ada dapat bervariasi dalam ukuran. Habitat A adalah tempat dimana populasi hidup. Suatu populasi adalah sekelompok organisme hidup dari jenis yang sama yang tinggal di tempat yang sama pada waktu yang sama. Semua populasi berinteraksi dan membentuk sebuah komunitas. Komunitas makhluk hidup berinteraksi dengan dunia non-hidup di sekitarnya untuk membentuk ekosistem. Para anggota hidup sistem sungai adalah tumbuhan dan hewan yang hidup di sekitar dan dalam sungai dan mereka semua terhubung satu sama lain dalam apa yang disebut web.Anything makanan yang ditambahkan ke air ekosistem perairan kita yang bukan merupakan bagian normal dari sistem, dan bahwa tidak boleh ada, adalah jenis polusi air. Ada banyak sumber pencemaran air. Beberapa jenis polusi dapat ditelusuri langsung ke tempat tertentu, seperti pabrik, atau tanaman industri. Sumber-sumber pencemaran air lebih mudah untuk mengontrol, karena titik sebenarnya di mana polusi sedang ditambahkan ke dalam air dapat diidentifikasi.

Berikut adalah beberapa hal yang kami pikir Anda mungkin telah datang dengan untuk menggambarkan
karakteristik dan perbedaan.
1.  Teks 1 adalah sebuah cerita tentang kota, teks 2 adalah lebih lurus "isi."
1.  Mereka berdua mendefinisikan ekosistem, tetapi mereka melakukannya secara berbeda.
1.  Mereka berdua tentang panjang yang sama dan memiliki jumlah yang sama paragraf.
1.  Teks 2 berbicara tentang pencemaran air pada umumnya; teks 1 berbicara tentang dampak dari 
 pembangkit listrik tenaga nuklir tetapi tidak mengatakan itu adalah potensi sumber polusi.
1.  Teks 2 berbicara tentang Web makanan, tetapi teks 1 hanya mengatakan bahwa hal dalam suatu ekosistem bergantung satu sama lain.

 
Analisis Wacana Teks Tertulis 3

Kami menduga bahwa ketika Anda terlibat dalam proses analisis dan perbandingan Anda tidak yakin tepat bagaimana untuk menggambarkan apa yang Anda memperhatikan. Analisis wacana memberikan alat untuk lebih sistematis terlibat dalam analisis deskriptif dan perbandingan teks-teks tertulis. Yang khusus perspektif kita dalam bab ini mengasumsikan bahwa analisis wacana diinformasikan oleh pengetahuan tentang konten domain (s) bahwa teks adalah tentang. Dengan kata lain, metode ini tidak "isi bebas."

Apa Metode ?

Analisis wacana teks yang ditulis adalah metode untuk menggambarkan ide-ide dan hubungan antara ide-ide yang hadir dalam teks. Metode ini mengacu pada bekerja dalam berbagai disiplin ilmu, termasuk retorika, linguistik teks, dan psikologi. Disiplin ini menyediakan cara untuk menggambarkan dan menganalisis bagaimana struktur dan isi teks mengkodekan ide-ide dan hubungan antara ide-ide. Dalam menggambarkan hubungan ini adalah penting untuk awalnya menentukan genre untuk mana teks milik karena struktur berbeda di berbagai genre. Sebagai contoh, cerita narasi berbeda dari esai persuasif; artikel berita memiliki bentuk yang berbeda dari editorial, dan teks-teks fiksi memiliki struktur yang berbeda dari nonfiksi. Perbedaan dalam struktur menyiratkan hubungan yang berbeda di antara ide-ide dalam teks, terutama di tingkat global. Sehubungan dengan perbedaan antara teks contoh 1 dan 2, yang pertama Perbedaan kita hanya perbedaan terdaftar mencerminkan genre yang seperti itu.

Tingkat global hubungan sering disebut sebagai struktur retoris teks. Struktur retorika yang berbeda sesuai untuk genre yang berbeda. Sebagai contoh, retoris struktur cerita banyak melibatkan terjadinya masalah bahwa protagonis (s) mencoba menyelesaikan, dan dalam "bahagia mengakhiri" cerita sukses untuk memecahkan. Cerita biasanya terdiri dari serangkaian episode yang kausal terkait. Sebuah bentuk umum dari hubungan episode terjadi ketika ada
sejumlah prakondisi yang harus dipenuhi untuk menyelesaikan masalah secara keseluruhan. Di lain struktur narasi retoris, hubungan interepisode mungkin sementara, dengan satu episode  

Analisis Wacana Teks Tertulis 4
berhasil lain tapi dengan tujuan yang tidak terlalu terkait. (Untuk informasi lebih lanjut tentang
struktur naratif, lihat Bamberg, 1997; Bloome, 2003; Mandler & Johnson, 1977; McCabe, 1997; Stein & Albro, 1997; Stein & Glenn, 1979; Trabasso & van den Broek, 1985). Struktur global teks nonfiksi kontras dengan orang-orang yang fiksi, dan ada kurang kesepakatan tentang struktur retorika yang berlaku. Meyer (1985) mengusulkan satu set lima "top- tingkat "retoris struktur dalam upaya untuk sistematisasi struktur dari genre utama teks ekspositori. Ini adalah koleksi atau daftar, deskripsi, kausal, komparatif, dan masalah / solusi. (Lihat juga Weaver & Kintsch, 1991). Struktur ini mungkin retoris isyarat dengan kata-kata tertentu atau frase tetapi tidak harus. Contoh teks 2 adalah deskripsi. Contoh teks
1 adalah sedikit lebih rumit tapi kami pikir mungkin lebih baik digambarkan sebagai sebuah narasi nonfiksi mungkin mirip dengan sebuah artikel di majalah berita atau surat kabar. Analisis teks tertulis juga prihatin dengan pemahaman hubungan lokal di antara ide-ide disampaikan dalam, teks yaitu, hubungan antara informasi dalam kalimat yang terjadi relatif berdekatan dalam teks. Justru hubungan antara ide-ide yang menentukan koherensi dari teks dan membuatnya lebih daripada jumlah bagian-bagiannya. Memang, Sanders, et al. (1992) koherensi, yang didefinisikan hubungan sebagai aspek "makna dari dua atau lebih segmen wacana yang tidak dapat dijelaskan dalam segi arti dari segmen dalam isolasi. Dengan kata lain, itu karena koherensi ini relasi yang arti dari dua segmen wacana yang lebih daripada jumlah bagian-bagiannya "(pg. 2). Ada sejumlah cara hubungan koherensi ditetapkan. Halliday dan Hasan (1976) mengidentifikasi empat
konektor utama hubungan logis: sementara seperti dalam urutan peristiwa memerintahkan (misalnya, langkah-langkah dalam bukti matematika), aditif seperti dalam elaborasi dari sebuah ide (misalnya, ide utama diikuti dengan rincian), kausal seperti dalam anteseden dan acara konsekuen, dan berlawanan, seperti dalam penjajaran kontradiktif informasi.
 
Analisis Wacana Teks Ditulis 5
Ada sejumlah penanda wacana (juga disebut isyarat linguistik) yang relevan dengan memahami hubungan lokal di antara ide-ide. Sebuah kelas khusus penanda wacana, yang disebut connectives, mengungkapkan, sinyal, atau isyarat yang mendasari hubungan koherensi konseptual. Contoh connectives adalah karena, lebih jauh lagi, dan bagaimanapun. Lain jenis perangkat sinyal (Lorch, 1989) sinyal hubungan kalimat untuk paragraf, paragraf untuk satu sama lain, dan keseluruhan tema teks. Lorch (1989) sinyal perangkat dibedakan dari aspek-aspek dari sebuah teks yang mengkomunikasikan isi semantik: Sinyal menekankan aspek tertentu dari konten atau struktur tetapi mereka tidak menambahkan konten (Lorch, 1989). Perangkat Signaling membantu pembaca memilih apa yang harus selektif menghadiri dan bagaimana membedakan pentingnya informasi yang berbeda dalam teks (Goldman & Duran, 1988; Goldman & Saul, 1990; Guthrie, 1988; Lorch & Chen, 1986; Lorch & Lorch, 1996). Lorch menyediakan daftar perangkat sinyal yang digunakan dalam prosa ekspositori yang meliputi judul, judul dan subpos; pengulangan konten untuk menekankan, pratinjau, atau meringkas; indikator fungsi (Kata penunjuk seperti demikian, frase pointer seperti dalam ringkasan, pointer kalimat-kalimat seperti biarkan saya meringkas apa yang telah dikatakan); indikator relevansi (izinkan saya menekankan bahwa); perangkat pencacahan, dan ketik isyarat (menggarisbawahi, tebal, dan tata ruang seperti indentasi, centering).  Sebuah tubuh besar penelitian empiris menunjukkan bahwa beberapa genre dan struktur konten yang lebih sulit bagi pembaca untuk memahami daripada yang lain. Sebagai contoh, pengetahuan tentang struktur naratif umumnya muncul lebih awal dari pengetahuan tentang struktur ekspositori (Crowhurst, 1990; Engelhard, Gordon, & Gabrielson, 1992; Grabe, 2002; Langer, 1986; Scott, & Windsor, 2000; Tolchinsky, Johansson, & Zamora, 2002;) Tentu saja ini mungkin akibat dari praktek instruksional khas
berkonsentrasi pada teks narasi di kelas primer dan tidak memperkenalkan bentuk-bentuk ekspositoris sampai nanti
(Duke, 2000; Pappas, 1993). Ketika pembaca memiliki pengetahuan tentang struktur isi informasi dan
 
Analisis Wacana Teks Ditulis 6
menggunakan informasi tersebut untuk memandu proses mereka terhadap teks, pemahaman mereka dan memori lebih baik dari dengan tidak adanya pengetahuan tersebut (Carrell, 1992; Englert & Hiebert, 1984; Garner, Alexander, et al, 1986;. McGee, 1982; Meyer, Brandt, & Bluth, 1980; Taylor & Beach, 1984; Taylor & Samuels, 1983). Meskipun peneliti keaksaraan selalu menyadari genre, isi, dan struktur perbedaan antara teks, historis ada pengakuan jauh lebih sedikit dari peran yang seperti perbedaan mungkin bermain di hasil untuk pembaca dan implikasi untuk pendidikan keaksaraan. Ini tidak lagi kasus. Jadi, penting bagi pendidik keaksaraan untuk menggambarkan dan memahami isi dan struktur tertulis teks, tuntutan mereka tempat di pembaca, dan hubungan antara teks yang ditulis siswa membaca dan mereka yang menulis.
Analisis Teks Tertulis
Tujuan dari analisis teks tertulis adalah untuk sampai pada deskripsi sistematis yang memberikan dasar
untuk membandingkan teks ditulis dengan satu sama lain.
Tapi apa deskripsi? Ada sejumlah
masalah yang harus dipertimbangkan dalam menjawab pertanyaan ini, yang paling penting yang adalah apa pertanyaan yang peneliti ingin alamat dengan analisis. Jika, misalnya, bunga dalam berapa banyak teks yang
mahasiswa ingat persis seperti itu disajikan, menghitung jumlah kata yang dapat direproduksi dalam urutan yang benar dan posisi mungkin semua yang diperlukan. Tentu saja, bahkan kata menghitung dapat menjadi lebih kompleks (misalnya, jika lokasi dalam teks (misalnya, awal, tengah, akhir) adalah penting). Memang, karya awal pada memori untuk teks yang ditulis menggunakan metode kata-menghitung (Clark, 1940, dikutip dalam Carroll, 1972; Gromulicki, 1956; King, 1960, 1961 dikutip dalam Carroll, 1972). Kata menghitung mungkin juga akan berguna jika bunga dalam ukuran sederhana kelancaran memproduksi teks tertulis.